Wednesday, June 10, 2026
HomeEkonomi BisnisRupiah Turun Meski Mata Uang Regional Lain Stabil, Benarkah Kondisi Ekonomi RI...

Rupiah Turun Meski Mata Uang Regional Lain Stabil, Benarkah Kondisi Ekonomi RI 2026 Mirip seperti 1998?

lintasekonomi.com | JAKARTA – Sebagian publik di Tanah Air sedang hangat memperbincangkan ihwal pelemahan nilai tukar rupiah bagi ekonomi Indonesia.

Persoalan kepercayaan investor terhadap fiskal Indonesia kian memicu keprihatinan bagi sebagian kalangan pelaku bisnis.

Terlebih, sektor swasta kini dihadapkan pilihan untuk meneruskan kenaikan biaya ke konsumen yang berisiko memukul daya beli.

Sebagian korporasi bahkan dinilai kerap menyerapnya dengan menurunkan margin keuntungan, yang akan membuat pertumbuhan korporasi melambat pada paruh kedua tahun 2026 ini.

Hal tersebut, diungkapkan eks Menteri Keuangan (Menkeu) RI periode 2013-2014 sekaligus ekonom senior, Chatib Basri.

“Persoalan kita itu adalah soal confidence di fiskal,” kata Chatib di Jakarta, pada Selasa, 9 Juni 2026.

Chatib membeberkan analisis data kausalitas yang dilakukan antara pergerakan rupiah dengan risiko fiskal.

Hal itu diukur melalui Credit Default Swap (CDS), yaitu biaya asuransi terhadap risiko gagal bayar obligasi negara.

Hasil pengujian data menunjukkan sebesar 23 persen dari variasi yang menyebabkan pelemahan rupiah dapat dijelaskan secara langsung oleh pergerakan CDS.

Sebaliknya, fluktuasi rupiah hanya mampu menerangkan 2,3 persen dari pergerakan CDS.

Rupiah Turun saat Negara Lain Stabil

Chatib memaparkan, data menunjukkan nilai CDS Indonesia sudah mulai memburuk sejak Januari 2026, sebelum pecahnya perang Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Terkusus, saat Moody’s mengubah outlook dan muncul kekhawatiran pasar mengenai defisit anggaran yang mendekati 3 persen.

Chatib menilai, hal ini membuktikan faktor utama pelemahan rupiah tak hanya dampak dari perang global, melainkan bersumber dari perhatian investor terhadap kredibilitas fiskal domestik.

Tak ayal, jika melihat sejumlah negara lain yang juga terdampak perang, maka mereka tak mengalami depresiasi mata uang sedalam Indonesia.

Tepis Kondisi Ekonomi 2026 Mirip 1998

Terkait dampak pelemahan kurs ke inflasi, estimasi Bank Indonesia (BI) menunjukkan setiap depresiasi Rp1 terhadap dolar AS hanya menyumbang tambahan inflasi sekitar 0,13 persen.

Dengan depresiasi rupiah yang berada di kisaran 8 persen, Chatib menyoroti efek rembetan ke inflasi umum masih di bawah 1 persen.

Eks Menkeu RI itu menyebut, dampak kenaikan harga disebut akan sangat terasa pada produk-produk berbasis impor seperti plastik dan besi.

“Sekarang pertanyaannya adalah sama nggak (kondisi ekonomi) 1998 dengan 2026? My answer is no,” ungkap Chatib.

“Kenapa? Yang membedakan paling besar 98 dengan 2026 itu adalah flexible exchange rate,” imbuhnya.

Secara keseluruhan, depresiasi rupiah dinilai tidak akan membawa Indonesia ke jurang resesi.

Bahkan, Chatib menilai pertumbuhan ekonomi di level 4,5-5 persen, masih tergolong sangat baik dalam standar global saat ini. (ist)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments